Sabtu, 11 Januari 2014

ISPA

  ISPA
Pendahuluan
Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya tinggi, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat, Kananda, dan negara-negara Eropa. Pneumonia di Indonesia, merupakan penyebab kematian nomor  tiga setelah kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Pada tahun 2006 di Indonesia, WHO melaporkan sebanyak enam juta anak meninggal. Sehingga, untuk negara-negara berkembang perlu mewaspadai, sebab hampir setiap harinya terdapat 300 anak yang meregang nyawa karenanya (Siswono, 2006)1.
Angka kejadian pneumonia di Sulawesi - selatan pada tahun 2008 sebanyak 23,8 % dari proporsi penyakit penyebab kematian bayi (Profil Propinsi SUL-SEL, 2009)2. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Maros tahun 2007, angka kejadian pneumonia pada balita sebanyak 408 kasus. Tahun 2008 mengalami peningkatan, sebanyak 843 kasus dan pada tahun 2009 mengalami penurunan dengan angka kejadian sebanyak 512 kasus atau 11,2 % dari jumlah balita yang menderita ISPA (Dinkes Kabupaten Maros, 2009)3.
Bahan dan Metode
Lokasi, populasi dan sampel penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Maros tahun 2010, dari bulan maret sampai april  2010. Penelitian ini adalah observasi analitik dengan menggunakan rancangan case control study.  Populasi sampel adalah semua ibu yang memiliki anak balita (0 - < 5 tahun) dengan pneumonia di Kabupaten Maros.
Sampel dalam penelitian ini dibagi dalam 2 kelompok : Kasus adalah ibu yang memiliki anak balita (0 - < 5 tahun) menderita pneumonia yang mencari pengobatan pertama tidak pada tenaga kesehatan (mengobati sendiri, ke dukun) di wilayah Kabupaten Maros (7 puskesmas) tahun 2009. Kontrol adalah . ibu yang memiliki anak balita (0 - < 5 tahun) menderita pneumonia yang mencari pengobatan pertama pada tenaga kesehatan di wilayan Kabupaten Maros (7 puskesmas) tahun 2009.
Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan wawancara langsung dengan responden  yakni ibu, baik pada kelompok kasus maupun maupun kelompok kontrol dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur.
Analisis Data
Analisis dapat dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu analisis univariat. Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum dengan cara mendeskripsikan tiap-tiap variabel yang digunakan dalam penelitian yaitu dengan melihat gambaran distribusi frekuensinya dalam bentuk tabel dan narasi. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat faktor risiko antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Karena rancangan penelitian ini adalah studi kasus kontrol, maka dilakukan perhitungan Odds Ratio (OR). Dengan mengetahui besarnya OR, dapat diestimasi pengaruh dari setiap faktor yang diteliti dan analisis multivariate. Pada analisis ini dilakukan ujicoba bersama-sama, sehingga dapat dilihat variabel mana yang paling berpengaruh terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia, karena variabel independen merupakan variabel dikotomi, yaitu pengobatan pertama pada non tenaga kesehatan (kasus) dan pengobatan pertama tenaga kesehatan (kontrol), maka analisis yang digunakan adalah analisis logistik regresi.
Hasil Penelitian
Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang diteliti dapat dilihat pada tabel 1. Terlihat bahwa distribusi responden menurut kelompok umur menunjukkan bahwa kelompok umur, responden dengan umur termuda adalah berusia 18 tahun dan yang tertua adalah 38 tahun. Karakteristik responden menurut pendidikan menunjukkan bahwa sebagaian besar responden berpendidikan SLTA yakni 47,0 %.
Hasil analisis bivariat menunjukkan, signifikan terhadap variabel sikap, OR = 5,392, (95 % CI = 2,734 - 10,636) , kepercayaan pengobatan, OR = 7,865, (95 % CI = 3,856 - 16,04), dan pengetahuan, OR = 5,255, (95 % CI = 2,647 - 10,431). Variabel yang tidak signifikan adalah pengalaman pengobatan, OR =  1,467 (95 % CI = 0,725 - 2,966) dan pekerjaan, OR = 2,391 (95 % CI = 0,921-6,209). Variabel dukungan suami, keluarga atau orang lain, bersifat protektif atau memberikan perlindungan pada ibu, untuk tidak mencari pengobatan pertama ke non nakes, OR = 0,180 (95 % CI = 0,077-0,422). Setelah dilakukan analisis multivariat terhadap variabel-variabel yang layak uji dengan mengunakan uji regresi logistic (sikap, kepercayaan pengobatan, pengetahuan, pekerjaan, dukungan suami, keluarga atau orang lain). Hasil analisis mnunjukkan bahwa variabel pengetahuan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia dibanding dengan variabel lainnya, dimana Exp (B) adalah 5,965 (tabel 2).
Pembahasan
sikap
Sikap muncul dari berbagai bentuk penilaian. Sikap dikembangkan dalam tiga model, yaitu afeksi, kecenderungan perilaku, dan kognisi. Respon afektif adalah respon fisiologis yang mengekspresikan kesukaan individu pada sesuatu. Kecenderungan perilaku adalah indikasi verbal dari maksud seorang individu. Respon kognitif adalah pengevaluasian secara kognitif terhadap suatu objek sikap. Kebanyakan sikap individu adalah hasil belajar sosial dari lingkungannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel sikap signifikan terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia, untuk ibu yang bersikap negatif berisiko sebesar  5,392 kali untuk mencari pengobatan pertama pada non tenaga kesehatan dibandingkan dengan ibu yang bersikap positif.
Hal ini sesuai dengan teori Green (1980) dalam Muzaham (2007)4 bahwa sikap berhubungan dengan motivasi individu atau kelompok dalam melakukan sesuatu, dengan demikian sikap positif akan memotivasi individu untuk mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan, sebaliknya sikap negatif akan memotivasi individu untuk mencari pengobatan ke non nakes..
Variabel sikap merupakan variabel yang layak uji multivariat dimana nilai p value = 0,000 < 0,25. Hasil analisis, menunjukkan bahwa variabel sikap signifikan terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia, nilai Exp (B) = 3,648, Confidence Interval = 1,553 - 8,556, tetapi bukan merupakan variabel yang paling dominan terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia.
Penelitian ini relevan dengan penelitian yang dilakukan Purwanti (2004)5, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sikap mempunyai hubungan yang bermakna dengan pencarian pengobatan pertama balita pneumonia, untuk ibu yang bersikap negatif berpeluang 2,16 kali untuk mencari pengobatan ke non nakes.
Pengalaman Pengobatan
Pengalaman seseorang mengenai penyakit akan mempengaruhi persepsinya mengenai penyakit tersebut. Persepsi yang akan ditimbulkan akan bersifat positif dalam artian mendukung pelayanan kesehatan yang dikelolah oleh tenaga kesehatan atau akan besifat negatif yang mendukung pengobatan pada non tenaga kesehatan. Seseorang yang memiliki pengalaman yang menjumpai kasus pneumonia yang pengobatanya dilakukan pada tenaga kesehatan berpeluang untuk menggunakan sarana pelayanan kesehatan apabila menjumpai kasus yang sama berikutnya (pengalaman positif).
                  Setelah dilakukan analisis bivariat, variabel pengalaman pengobatan memiliki nilai OR sebesar 1,467, dengan nilai Confidence Interval 0,725 – 2,966. Hal ini berarti bahwa ibu yang tidak ada pengalaman berisiko sebesar 1,467 kali untuk mencari pengobatan pada non tenaga kesehatan dibandingkan ibu yang ada pengalaman. Secara Statistik variabel pengalaman pengobatan tidak signifikan terhadap pencarian pengobatan pertama. Variabel pengalaman pengobatan tidak layak uji multivariat, dimana nilai p value = 0,285 > 0,25.
Notoadmodjo (1993)6, menjelaskan bahwa proses pembentukan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor berasal dari dalam dan luar individu antara lain susunan saraf pusat, persepsi, motivasi, proses belajar, lingkungan dan sebagainya. Hal ini berarti bahwa, suatu pengalaman menjumpai kasus pneumonia tidak menjamin untuk membawa anaknya pada tenaga kesehatan melainkan harus disenergiskan terlebih dahulu dengan faktor-faktor lain yang turut mengambil peranan dalam pembentukan suatu perilaku.
Penelitian ini relevan dengan penelitian yang dilakuka Hendrawan (2003)7, menunjukkan bahwa variabel pengalaman pengobatan tidak bermakna secara statistik, nilai OR sebesar 1,221.
Menurut Rosenstock dalam sumber yang sama, menyatakan bahwa sikap dan kepercayaan mengenai institusi dan penyediaan pelayanan medis berguna didalam memahami perawatan kesehatan pencegahan. Tingkat penggunaan pelayanan kesehatan yang rendah berada pada kelompok etnis tertentu yang pesimis (skepticism) terhadap manfaat pelayanan kesehatan modern.
Kepercayaan Pengobatan
Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh OR sebesar 7.865 dengan Confidence Interval 3.856 – 16.042. Variabel kepercayaan pengobatan signifikan terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia. Hal ini berarti bahwa Ibu yang mempunyai kepercayaan pengobatan tradisional berisiko sebesar 7.865 kali untuk mencari pengobatan pertama pada non tenaga kesehatan dibandingkan ibu yang memiliki kepercayaan pengobatan modern. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Mar’at (1981)8 yang menyatakan bahwa kepercayaan (belief) merupakan komponen kongnisi dari sikap. Kepercayaan berkembang dari adanya persepsi yang dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuan, dimana faktor pengalaman dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat sedangkan faktor pengetahuan dan cakrawalanya memberikan arti dalam obyek tersebut. Selanjutnya komponen sikap yang lain, yakni komponen afeksi  memberikan evaluasi emosional berupa senang atau tidak senang terhadap obyek dan kemudian komponen konasi menentukan kesiapan tindakan terhadap obyek. Sebagai hasil dari proses ini, tindakan bisa bersifat positif atau negatif.
Pengetahuan
Suchmn dalam purwanti (2004), menyebutkan bahwa pengetahuan mengenai penyakit dan gejalanya kemungkinan dapat menjelaskan mengapa kelompok etnis tertentu menggunakan beberapa sarana pelayanan kesehatan. Asumsi yang umum adalah masyarakat akan lebih menggunakan sarana pelayanan kesehatan apabila mereka mengetahui lebih banyak mengenai penyakit dan gejalanya.
Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh OR sebesar 5.255 dengan Confidence Interval 2.647 – 10.431. Hal ini berarti bahwa Ada hubungan bermakna antara variabel pengetahuan dengan pencarian pengobatan pertama balita pneumonia, Ibu yang mempunyai pengetahuan kurang berisiko sebesar 5.255 kali untuk mencari pengobatan pertama pada non tenaga kesehatan dibandingkan ibu yang memiliki pengetahuan baik. Variabel pengetahuan juga merupakan variabel yang layak uji multivariat, dimana nilai p value = 0,000 < 0,25. Setelah dilakukan analisis diperoleh nilai Exp (B) = 5,885, dengan Confidence Interval 2,464 – 14,058, variabel pengetahuan merupakan variabel yang paling dominan terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia.
Hal ini sesuai dengan hipotesis Health belief models Resenstock, (1974) dalam Muzaham (2007), mengemukakan bahwa orang tidak akan mencari pertolongan medis atau pencegahan penyakit bila mereka kurang mempunyai pengetahuan dan motivasi minimal yang relavan dengan kesehatan, bila mereka memandang keadaan tidak cukup berbahaya, bila tidak yakin terhadap keberhasilan suatu intervensi medis, dan bila mereka melihat adanya beberapa kesulitan dalam melaksanakan perilaku kesehatan yang disarankan.
Pekerjaan
Ibu yang bekerja diasumsikan memiliki informasi yang lebih mengenai penyakit pneumonia. Disamping itu juga, dengan potensi pergaulan yang lebih luas, membuat ibu-ibu yang bekerja memiliki cakrawala pandangan yang lebih baik mengenai kesehatan sehingga dapat memberikan upaya pengobatan yang tepat bagi anaknya yang sakit pneumonia. Ibu yang bekerja, juga mandiri secara ekonomi sehingga ia dapat memilih pengobatan yang baik pada balitanya.
Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh nilai OR sebesar 2,391 dengan Confidence Interval 0,921 – 6,209. Hal ini berarti bahwa Ibu yang tidak bekerja berisiko sebesar 2,391 kali untuk mencari pengobatan pertama pada non tenaga kesehatan dibandingkan ibu yang bekerja.
Variabel pekerjaan tidak signifikan terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia. Hal ini diasumsikan bahwa ibu yang bekerja memiliki mobilitas yang tinggi. Berbagai aktivitas dan kesibukan Ibu yang bekerja dapat menghambat pencarian pengobatan pertama pada pelayanan kesehatan. Disisi lain ibu yang tidak bekerja memiliki waktu untuk lebih sering kontak dengan anaknya sehingga dapat lebih sering memperhatikan keadaan anak, dan perubahan yang terjadi pada anaknya. Ibu yang tidak bekerja juga memiliki keleluasaan waktu untuk mencari pengobatan pada fasilitas kesehatan.
Dukungan suami, keluarga atau orang lain
Beberapa studi menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara upaya pencarian pengobatan dengan pengaruh dari orang lain. Freidson dalam Hendrawan (2003), mengamati bahwa sebelum mencari pengobatan profesional, seseorang umumnya meminta pertimbangan dari keluarga atau teman mengenai apa yang seharusnya mereka perbuat ketika menghadapi gejala penyakit tersebut.
Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh OR sebesar 0,180 dengan Confidence Interval 0.077 – 0,422. Hal ini berarti bahwa ibu yang tidak ada dukungan suami, keluarga atau orang lain dalam menentukan pengobatan, tidak akan mencari pengobatan pertama pada non tenaga kesehatan. Variabel dukungan suami, keluarga atau orang lain signifikan terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia, Confidence Interval tidak mencakup nilai 1.
Variabel dukungan suami, keluarga, atau orang lain dalam penelitian ini bersifat protektif terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia. Diasumsikan bahwa tidak ada adanya dukungan suami, keluarga, atau orang lain dalam memberi akses ibu untuk mencari pengobatan ke non nakes seperti : informasi pengobatan atau biaya, ibu tidak akan membawa balitanya berobat ke non nakes.
Berkaitan dengan biaya pengobatan, pelayanan kesehatan saat ini sudah tidak membebankan biaya pada pasien. Dibandingkan dengan pengobatan sendiri misalnya yang mesti mengeluarkan biaya dengan membeli obat sendiri, apalagi pengobatan pada dukun yang mesti memberikan upah atas jasa penyembuhan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 5 variabel yang layak uji multivariat, variabel pengetahuan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap pencarian pengobatan pertama balita pneumonia.
Bloom, (1965) dalam Ngatimin, (2005)9 mengemukakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
Penelitian Rogers dalam Ashari (1990)10, mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : Tahap pertama adalah awarness (kesadaran), di mana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). Tahap kedua adalah interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut, disini sikap subjek mulai timbul. Tahap ketiga adalah evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden lebih baik lagi. Tahap keempat adalah trial, di mana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. Tahap kelima adalah adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Rogers dalam sumber yang sama menyatakan bahwa apabila perilaku baru atau adopsi perilaku disadari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka sikap tersebut akan bersikap langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak disadari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.
Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan memberi kontribusi yang besar terhadap perubahan perilaku. Perubahan sikap, kepercayaan, seseorang dapat memiliki profesi pekerjaan yang baikpun harus menempuh pendidikan. Pendidikan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Pengetahuan juga mempengaruhi dukungan sosial, ketika lingkungan sosial dengan tingkat pengetahuan kurang maka diasumsikan dukungan sosial akan berimplikasi pada perilaku negatif. Sebaliknya jika lingkungan sosial dengan tingkat pengetahuan baik maka akan berimplikasi pada perilaku positif.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Maros, pada pelaksanaan penelitian beberapa puskesmas dikeluarkan dari sampel penelitian sehingga terjadi perubahan pada proporsi sampel ditiap puskesmas, semula 10 puskesmas menjadi 7 puskesmas karena pertimbangan kelengakapan pencatatan. Bias seleksi kemungkinan besar terjadi, karena diagnosa dari pneumonia ini hanya dilihat dari gejala klinisnya saja, dan diagnosa dipuskesmas mungkin saja dilakukan bukan oleh dokter. Bias informasi dapat saja terjadi dalam penelitian ini, mengingat inti dari penelitian ini adalah kemampuan responden untuk mengingat kembali kejadian pneumonia pada anak balitanya pada tahun 2009, terutama dalam pertanyaan mengenai sikap dan pengetahuan responden terhadap pencarian pengobatan pertama. Bias howthorme dapat juga terjadi dalam penelitian ini, mengingat bahwa responden mengetahui bahwa dirinya sedang diamati sehingga dikhawatirkan jawaban yang diberikan tidak obyektif dan memiliki kecedrungan menyenangkan peneliti.
Saran
Perlunya ibu meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit pneumonia,. Ibu yang tidak bekerja, aktivitas kesehariannya dirumah sebaiknya tetap mencari informasi mengenai penyakit pneumonia. Sedangkan ibu yang bekerja sebaiknya tetap mempunyai waktu luang untuk balitanya. Dukungan sosial memegang peranan penting dalam menentukan pengambilan keputusan, sebaiknya selain ibu, keluarga dan masyarakat juga perlu pengetahuan tentang penyakit pneumonia, sehingga pola pikir mereka berimplikasi positif.
Daftar Pustaka
1.      Siswono, 2006,  1,8 Juta Anak Balita Meninggal Akibat Pneumonia dan Meningitis, http://www.mediaindo.co.id. Tanggal 4 April 2006.
2.      Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan. 2009.  Profil Kesehatan Tahun 2008. SUL-SEL.
3.      Dinkes Kabupaten Maros, data pneumonia balita tahun 2009.
4.      Muzham, Fauzi. 1995. Sosiologi Kesehatan. UI Press. Jakarta.
5.      Purwanti, Isti Endah. 2004. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Pencarian Pengobatan Pertama Penderita Pneumonia pada Balita di Kabupaten Majalengka Tahun 2003. Tesis FKM UI.
6.      Notoatmodjo, 1993. Pengantar Ilmu Kesehatan dan Pendidikan Kesehatan. Andi Offset. Yogyakarta.
7.      Hendrawan, Harimat. 2003. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Ibu Balita Dalam Pencarian Pengobatan pada Kasus-kasus Balita dengan Gejala Pneumonia di Kabupaten Serang Banten Tahun 2003. Tesis FKM UI.
8.      Mar’at. 1984. Sikap Manusia Perubahan dan Pengukurannya, Galia. Jakarta.
9.      Ngatimin, Rusli. 2005. Ilmu Perilaku Kesehatan. Yayasan PK-3. Makassar.
10.  Ashari, 1990. Domain Pengetahuan Terhadap Perilaku. http://id.shvoong.com. Tanggal 15 April 2010.
Lampiran
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden di Kabupaten Maros Tahun 2009
Kelompok Umur
(Tahun)
n
%
18 – 20
4
2,4
21 – 23
64
38,1
24 – 26
50
29,8
30 – 32
36
21,4
33 – 35
14
8,3
36 – 38
14
8,3
 Pendidikan
Tidak Sekolah
8
4,8
SD
45
26,8
SLTP
8
4,8
SLTA
79
47,0
Diploma / PT
28
16,7
Jumlah
168
100
Sumber : Data Primer 2009
Tabel. 2. Analisis Model Variabel Bebas (Pencarian Pengobatan pertama balita pneumonia) dengan variabel terikat faktor predisposisi perilaku ibu (Sikap, Kepercayaan pengobatan, Pengetahuan, Pekerjaan, dan Dukungan suami, keluarga, atau orang) di Kabupaten Maros Tahun 2009
B
S.E
df
Sig
Exp(B)
95.0 %.C.I. for Exp(B)
Lower
Upper
Sikap
1,295
0,436
1
0,003
3,648
1,553
8,566
Kepercayaan
1,736
0,442
1
0,000
5,675
2,388
13,488
pengetahuan
1,786
0,445
1
0,000
5,965
2,493
14,270
pekerjaan
0,667
0,621
1
0,283
1,948
0,576
6,585
Dukungan
-1,908
0,532
1
0,000
0,148
0,052
0,421
Constant
-10,908
1,732
1
0,000
0,000
Sumber : Data Primer